Sometimes you feel like your life is spiralling towards something that you dont know.
And you're taking it back.
Man, sometimes i really wish that i can use logic all the time. And have this ability to turn off my feeling...completely.
Let's take back what is righfully ours...
Kucing, Coklat dan Kopi.
There are things that remain the same, the place you will always come home to.
Rabu, 26 November 2014
Selasa, 21 Oktober 2014
Lapse Point
I drew the line from your smiley eyes,
To pull myself up.
And let me stay for a while, inside world of imagination.
Because of you I know, that there’s still a kid in me.
Let’s play, until the sun set and leave nothing but a
darkness.
Kamis, 09 Oktober 2014
Citra
Mari bercinta.
Pada musik yang bingar dan gerak yang riang, lalu dengan ritme dan pola tarimu kaukatakan lantang kebahagiaanmu. Koreo yang kau rangkai perlahan dalam diam saat sendirian.
Langkah ini adalah senyum, Ayunan tangan ini adalah tawa, dan tiap lirikan adalah jari tengah yang lantang kau acungkan pada semua orang yang pernah kau sakiti sekali dulu, dan diam-diam berharap kamu jatuh terjerembab.
Mari menghamba,
pada nada sedemikian rupa,
tiap nada adalah langkah yang diatur dengan rapi, tiap ritme adalah pijak yang dengan seksama kautata seperti arah bonsai dalam taman zen, walapun jiwamu aalah cabik dan tangismu lantang memukul dinding hatimu. Berdentang begitu kencang. Dan jiwamu terasa begitu pekak namun sekuatmu kau bendung suara itu. Sampai sunyi. sampai hilang.
Semua adalah pemirsa, dan tanpa kau sadari kau jadi pemain sendiri di panggung yang kau ciptakan pelan-pelan dalam imajimu. Semua adalah pemirsa, dan kau meyakini hal itu sepenuh jiwa, rasuk sedemikian rupa.
Maka hidupmu drama.
Maka suaramu adalah dialog dan tiap gerakmu adalah apa yang ingin kau sampaikan kepada mereka yang kau anggap melihat hidupmu. Menyaksikan hidupmu. Menunggu runtuh panggungmu.
Tidak semua paham dan mungkin lakonmu adalah pilihan. Karena siapa yang sudi melihat hitam jelaga pekat hidupmu, sedangkan semua bertaruh kau akan luruh.
Dan kau juga menunggu lelah, runtuh dindingmu, sampai batasmu.
Pada musik yang bingar dan gerak yang riang, lalu dengan ritme dan pola tarimu kaukatakan lantang kebahagiaanmu. Koreo yang kau rangkai perlahan dalam diam saat sendirian.
Langkah ini adalah senyum, Ayunan tangan ini adalah tawa, dan tiap lirikan adalah jari tengah yang lantang kau acungkan pada semua orang yang pernah kau sakiti sekali dulu, dan diam-diam berharap kamu jatuh terjerembab.
Mari menghamba,
pada nada sedemikian rupa,
tiap nada adalah langkah yang diatur dengan rapi, tiap ritme adalah pijak yang dengan seksama kautata seperti arah bonsai dalam taman zen, walapun jiwamu aalah cabik dan tangismu lantang memukul dinding hatimu. Berdentang begitu kencang. Dan jiwamu terasa begitu pekak namun sekuatmu kau bendung suara itu. Sampai sunyi. sampai hilang.
Semua adalah pemirsa, dan tanpa kau sadari kau jadi pemain sendiri di panggung yang kau ciptakan pelan-pelan dalam imajimu. Semua adalah pemirsa, dan kau meyakini hal itu sepenuh jiwa, rasuk sedemikian rupa.
Maka hidupmu drama.
Maka suaramu adalah dialog dan tiap gerakmu adalah apa yang ingin kau sampaikan kepada mereka yang kau anggap melihat hidupmu. Menyaksikan hidupmu. Menunggu runtuh panggungmu.
Tidak semua paham dan mungkin lakonmu adalah pilihan. Karena siapa yang sudi melihat hitam jelaga pekat hidupmu, sedangkan semua bertaruh kau akan luruh.
Dan kau juga menunggu lelah, runtuh dindingmu, sampai batasmu.
Kamis, 02 Oktober 2014
Sabtu, 27 September 2014
Kadang kita
Sempurna yang hanya di muka saja,
Lalu lelah dan berhenti menggali.
Diam di kedalaman yang itu saja.
Karena dasar entah terlalu gelap entah terlalu jauh.
Seperti kamu bilang cinta laut tapi sebatas neritik.
Seperti kamu bilang gila Beatles tapi sebatas Hey, Jude.
Sayangnya sebagian yang kamu pilih untuk sayang bukan kumpulan air maha raksasa, bukan juga empat pria Inggris yang mungkin tidak peduli pada fans karbitan.
Laut yang kamu pilih ini minta diselami, dan kamu cintai seisi-isinya, seperti kamu mabuk sampai mual sampai kamu muntahkan lagi. Tetap kamu tidak bisa berhenti minum.
You like something and you only stick to part of it that you really like.. It will be like eating chicken and you eat only the white meaty part and leave the skin, bone, and gizzards out of it. Chicken is awesome, but i won't settle with only chicken. Does it make sense?
Lalu lelah dan berhenti menggali.
Diam di kedalaman yang itu saja.
Karena dasar entah terlalu gelap entah terlalu jauh.
Seperti kamu bilang cinta laut tapi sebatas neritik.
Seperti kamu bilang gila Beatles tapi sebatas Hey, Jude.
Sayangnya sebagian yang kamu pilih untuk sayang bukan kumpulan air maha raksasa, bukan juga empat pria Inggris yang mungkin tidak peduli pada fans karbitan.
Laut yang kamu pilih ini minta diselami, dan kamu cintai seisi-isinya, seperti kamu mabuk sampai mual sampai kamu muntahkan lagi. Tetap kamu tidak bisa berhenti minum.
You like something and you only stick to part of it that you really like.. It will be like eating chicken and you eat only the white meaty part and leave the skin, bone, and gizzards out of it. Chicken is awesome, but i won't settle with only chicken. Does it make sense?
Rabu, 24 September 2014
Life. Update.
As if, ada yang peduli kalo gue update masalah idup..
Gimana Padang?
Hehe. Basically, im a very simple person. Im not demanding nor pushy.. So far, as long as i have access to Internet and a cozy place to read, i can live peacefully. Dan Padang punya itu, jadi ya..gua mah sante sante aja.
Selama 2014 ini bisa dibilang (hampir) ga pernah maen ke laut. Maen sih, tapi ga ciblung, as in ga nyelem ato berenang..
They say that Sumbar has some beautiful beaches.. Itu bener sih. Minggu lalu baru banget dadakan ke Pantai Pesisir Selatan, pulau Cingkuai namanya. Namanya juga dadakan..dan gua ga tau kalo ke pantai, dan gua pake rok. Ke pantai. Iya. Dadah babailah ama yang namanya maen-maen di Pantai.
Rencananya sih mau maen ke Mentawai, tapi awal tahun. Kalo sekarang cuaca lagi nggak begitu bagus. Snorkel ama wetsuit juga ditinggal di malang pun. Bahasa gua kenapa begini banget. Yaudahlah ya.
Anyway, perubahan besar yang terjadi di Padang adalah..
Gua
Beli
Motor.
Jreng.
Emangnya bisa naek motor? Bisalaaah. Kalo Matic.
Dan kalo definisi bisa adalah motornya jalan. Jadi, apakah gua bisa naek motor? Obisaaaa, kan motornya jalan.
Minggu lalu nyobain bonceng temen kantor. Tapi yang dibonceng curhat di Path kalo deg-degan dan berasa naik Histeria dibonceng ama yours truly. Cih. I'll be taking her on my back again, soon. Sampe perasaan naek histeria berganti jadi perasaan naek odong-odong.
Yang penting, belajar aja naek motor terus, ye kan.
Udah ah. Udah malem, ikan bobok.
Gimana Padang?
Hehe. Basically, im a very simple person. Im not demanding nor pushy.. So far, as long as i have access to Internet and a cozy place to read, i can live peacefully. Dan Padang punya itu, jadi ya..gua mah sante sante aja.
Selama 2014 ini bisa dibilang (hampir) ga pernah maen ke laut. Maen sih, tapi ga ciblung, as in ga nyelem ato berenang..
They say that Sumbar has some beautiful beaches.. Itu bener sih. Minggu lalu baru banget dadakan ke Pantai Pesisir Selatan, pulau Cingkuai namanya. Namanya juga dadakan..dan gua ga tau kalo ke pantai, dan gua pake rok. Ke pantai. Iya. Dadah babailah ama yang namanya maen-maen di Pantai.
Rencananya sih mau maen ke Mentawai, tapi awal tahun. Kalo sekarang cuaca lagi nggak begitu bagus. Snorkel ama wetsuit juga ditinggal di malang pun. Bahasa gua kenapa begini banget. Yaudahlah ya.
Anyway, perubahan besar yang terjadi di Padang adalah..
Gua
Beli
Motor.
Jreng.
Emangnya bisa naek motor? Bisalaaah. Kalo Matic.
Dan kalo definisi bisa adalah motornya jalan. Jadi, apakah gua bisa naek motor? Obisaaaa, kan motornya jalan.
Minggu lalu nyobain bonceng temen kantor. Tapi yang dibonceng curhat di Path kalo deg-degan dan berasa naik Histeria dibonceng ama yours truly. Cih. I'll be taking her on my back again, soon. Sampe perasaan naek histeria berganti jadi perasaan naek odong-odong.
Yang penting, belajar aja naek motor terus, ye kan.
Udah ah. Udah malem, ikan bobok.
Rabu, 03 September 2014
Halo Padang
And they say that life is series of choices. I might disagree with that, but i already made the choice that now lead me to move out to Padang. The friggin capital city of West Sumatra. Sumatra. Su. Ma. Tra.
Do i have a say? Yes yes, some people in HR said so. They gave us this spread, some kind of form that lead us to believe that we have a say in our next transfer. So i wrote Medan, Lampung, dan Palembang as my Sumatran choices. And then i end up in Padang.
But then again, i have to be thankful because some of my friends end up in...much lonelier city. No mall. No cafe. No Pizza Hut. No KFC.
Am i sad? i safely say, that no, im not sad. Well, there were a liiiiiittle breakdown. But then i put on my big girl panties and all problems are solved. After all, i was the one who made a choice to work as one of auditors in so called supreme audit board. B friggin PK.
Excuse my ramblings, dear readers, i may sound like a babbling, bumbling band of baboons (Hi, Fred and George!), and yeah i was bit pissed but all is right in the world of Viona Putri Siltavia.
Ok, Padang it is.
What can i say about Padang? Well, there are foods. There is this gulai lontong in my office's canteen that is so good i eat it 5 days in a row in my first week. Martabak Kubang. and dont get me start at the sinful Es Duren Gantinamo, oh you, a bowl of frozen devil, you. And then Nasi Padang, of kors.
But my dear friend, im sorry that im unable to broaden the adventure of Padang outside the terms of food, because this yours truly does nothing but veg out these days. Veg out. As in "Oh, look at that.. bed. Let's lie." and read. Nothing new.
But i do have this awesome room. With wooden floor, shower, wifi, red brick wall, big window, located in second floor, AC, nice queen size bed.... and those gigas of books... so, all is right, all is right.
Until i have another interesting things to tell, toodles from Padang!!
Do i have a say? Yes yes, some people in HR said so. They gave us this spread, some kind of form that lead us to believe that we have a say in our next transfer. So i wrote Medan, Lampung, dan Palembang as my Sumatran choices. And then i end up in Padang.
But then again, i have to be thankful because some of my friends end up in...much lonelier city. No mall. No cafe. No Pizza Hut. No KFC.
Am i sad? i safely say, that no, im not sad. Well, there were a liiiiiittle breakdown. But then i put on my big girl panties and all problems are solved. After all, i was the one who made a choice to work as one of auditors in so called supreme audit board. B friggin PK.
Excuse my ramblings, dear readers, i may sound like a babbling, bumbling band of baboons (Hi, Fred and George!), and yeah i was bit pissed but all is right in the world of Viona Putri Siltavia.
Ok, Padang it is.
What can i say about Padang? Well, there are foods. There is this gulai lontong in my office's canteen that is so good i eat it 5 days in a row in my first week. Martabak Kubang. and dont get me start at the sinful Es Duren Gantinamo, oh you, a bowl of frozen devil, you. And then Nasi Padang, of kors.
But my dear friend, im sorry that im unable to broaden the adventure of Padang outside the terms of food, because this yours truly does nothing but veg out these days. Veg out. As in "Oh, look at that.. bed. Let's lie." and read. Nothing new.
But i do have this awesome room. With wooden floor, shower, wifi, red brick wall, big window, located in second floor, AC, nice queen size bed.... and those gigas of books... so, all is right, all is right.
Until i have another interesting things to tell, toodles from Padang!!
Jumat, 15 Agustus 2014
And then....
When the world is rushing in such pace you cant keep up, it's okay to take a break.
But not to surrender, because you know you are so much more.
But not to surrender, because you know you are so much more.
Kamis, 07 Agustus 2014
God is an idea. God is an idea?
“God is dead. God remains dead. And we have killed him. Yet
his shadow still looms. How shall we comfort ourselves, the murderers of all
murderers? What was holiest and mightiest of all that the world has yet owned
has bled to death under our knives: who will wipe this blood off us? What water
is there for us to clean ourselves? What festivals of atonement, what sacred
games shall we have to invent? Is not the greatness of this deed too great for
us? Must we ourselves not become gods simply to appear worthy of it?”
Quote Nietzche itu
kubaca malam-malam saat aku membuka salah satu posting Mbak Siska di Path. Great
minds think alike ya..*dikaplok*, karena siangnya baru aja aku kepikiran
tentang the idea of the God itself. Neil Gaiman dalam buku American Gods
menceritakan tentang Tuhan-tuhan yang kuat dan hidup dari kepercayaan manusia.
The more you believe about Gods, the stronger they are. In some twisted way,
God exist because we believe they exist. Once the idea of God is forgotten,
they cease to exist in reality.
Dan aku merasa
kalau hal itu benar, terlepas dari apapun kepercayaan kita, Tuhan adalah sebuah
ide maha raksasa yang karena dipercayai secara massal, maka dia hidup. Terlepas
dari mukjizat-mukjizat dan bukti yang membuktikan kalau itu ada, Tuhan adalah
bagian dari sejarah. Manusia menulis tentang Tuhan. Dalam buku, dalam kisah,
dalam epos, dalam puisi, dalam apapun itu. Dan dari generasi ke generasi, kita
menjaga dan memastikan bahwa Tuhan tetap hidup. Baik itu lewat jalan damai
maupun jalur pemaksaan, the love you have to your God pushes you to keep Him
alive. And so God live thru us. Kita adalah lidah Tuhan, Kita adalah tangan
yang menuliskan Tuhan. Kita adalah perpanjangan Tuhan. Tuhan butuh kita untuk
meneruskan dia, menceritakan kisahnya, mendakwahkan ajarannya.
Dan kita butuh
Tuhan. Alasan kita memang berbeda-beda untuk memeluk agama, but I say, I need
my God. In a chaos, God is something bigger that life itself, and you need
that. You need an idea that there’s something bigger than life that awaits you,
atones your sins, rewards you for every kindness with absolute justice. God
will always be there to catch you, because God will never fail us. Dan dalam
dunia yang kacau dan penuh dengan hal-hal yang menyakitkan, Tuhan adalah
sesuatu yang absurd in the best way. Invisible anchor that gives you peace. God
is the highest law, because let’s face it, the idea of good and evil came from
an old idea of God and the Devil. Dan Tuhan alu diterjemahkan menjadi sebuah
agama. Karena Tuhan dating dalam ajaran, kepercayaan, dogma.
Tapi, Tuhan juga
bisa jadi sebuah alasan untuk berbuat kejahatan. Selain ekspansi damai yang
dilakukan Budha, sejarah menceritakan bahwa beberapa agama melakukan banyak hal
untuk menyebarkan agama mereka, dan nggak semuanya dilakukan dengan jalan
damai. People do kill for religion, for the idea of God itself. And it’s
frightening. Karena ketika kita membenarkan kekerasan atas nama Tuhan, lalu apa
yang kita punya untuk menjaga kedamaian?
Lennon berpikir
bahwa tanpa agama, dunia akan lebih damai. Lennon mendambakan Utopia, dimana
semua manusia adalah sama tanpa ada pembeda. I say, yeah, because world of
nihilism surely will lead you into total peace. Kalo kata temen, Lennon udah
masuk majalah hidayah “Seorang Musisi Kuburnya Dipenuhi Pita Kaset Rusak Karena
Tidak Percaya Tuhan”.
Kembali lagi
pada ide bahwa Tuhan adalah sebuah ide. Kalau kita dan kesadaran kita memutuskan
bahwa apa yang kita lakukan salah atau benar, bukankah hal yang paling mudah
adalah mengambil the doubt of the benefit? Take the best of the idea itself and
live it thru your conscience, act by it. Jadilah pemeluk agama dan Penerus
Lidah Tuhan yang baik. In a world where life is nothing but a number of casualties
written on a news, our conscience and our act of kindness is what makes life
worth living for other. Tuhan seharusnya adalah sesuatu yang indah dan terang,
mengapa harus kita gelapkan? Kalau Tuhan bisa mengeluarkan yang terbaik dari
kita, ya tetaplah di jalan itu. I don’t live
fully to my religion, because….well I just don’t. Bukan karena aku tidak bisa.
Tapi dalam beberapa hal, aku merasa bahwa agama adalah bahasa yang kita
terjemahhkan dalam kehidupan. Agama adalah kesadaran. Apapun agama yang kamu
pilih, kamu memilih sesuatu yang paling membuatmu damai, sesuatu yang paling
membuat kamu tenang. Maka terjemahkan agama dan tuhanmu dalam kebaikan.
Those who believe that they
believe in God, but without passion in their hearts, without anguish in mind,
without uncertainty, without doubt, without an element of despair even in their
consolation, believe in the God idea, not God himself. Miguel de Unamuno
Tumbuh
Kita berangkat dari satu titik dan berkembang,
dan meskipun tampak statis,
saat aku membaca lagu tulisan-tulisanku ke balakang, aku merasa tumbuh.
Aku merasa berubah.
Beberapa begitu memalukan dan ingin kuhapus saja, tapi,
aku tidak bisa menghapus kenangan dari hidupku.
Melupakan.
aku bergerak,
dan aku merasa sedikit senang karena aku tumbuh, meskipun sedikit.
dan meskipun tampak statis,
saat aku membaca lagu tulisan-tulisanku ke balakang, aku merasa tumbuh.
Aku merasa berubah.
Beberapa begitu memalukan dan ingin kuhapus saja, tapi,
aku tidak bisa menghapus kenangan dari hidupku.
Melupakan.
aku bergerak,
dan aku merasa sedikit senang karena aku tumbuh, meskipun sedikit.
Langganan:
Postingan (Atom)